Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BABEL XPOSEBASEL XPOSEFeatured

Di Antara Laut dan Tambang, Nelayan Rias dan Beriga Menanti Kepastian Ruang Hidup

×

Di Antara Laut dan Tambang, Nelayan Rias dan Beriga Menanti Kepastian Ruang Hidup

Sebarkan artikel ini
https://babelxpose.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG_20260412_162525.webp

BANGKA SELATAN, Babelxpose.com — Laut bagi nelayan bukan sekadar hamparan air yang membentang di hadapan mereka. Di sana ada penghasilan harian, kebutuhan dapur, biaya pendidikan anak, dan harapan agar keluarga tetap bertahan. Namun, ketika hasil tangkapan tak menentu, harapan itu kerap harus ditopang oleh pekerjaan lain.

Dai, istri seorang nelayan di Desa Rias, Bangka Selatan, memahami betul keadaan tersebut. Ketika suaminya pergi melaut hingga lima hari dan membawa pulang hasil yang terbatas, keluarga mereka tak bisa hanya mengandalkan laut. Tiga petak kebun sawit menjadi sumber pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

https://babelxpose.com/wp-content/uploads/2026/03/ukuran-300-x-600_20260331_213520_0000.gif

“Hasil kebun sawit sering kali kami andalkan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saat hasil tangkapan laut sedang sedikit,” ujar Dai.

Dalam cerita Dai, laut dan kebun menjadi dua sumber penghidupan yang saling menopang. Ketika salah satunya tak memberi hasil yang cukup, keluarga harus bergantung pada yang lain. Pendapatan dari melaut, menurut keterangannya, bisa mencapai Rp300 ribu secara kotor setelah suaminya berada di laut selama lima hari.

Angka itu belum dengan sendirinya menggambarkan seluruh biaya dan kebutuhan rumah tangga nelayan. Namun, cerita tersebut memperlihatkan betapa pentingnya kepastian sumber penghidupan bagi keluarga yang menggantungkan hidup pada hasil laut.

Kegelisahan serupa muncul di Dusun Labun, kawasan pesisir yang juga menjadi tempat masyarakat mengembangkan usaha berbasis hasil laut. Abu, seorang pembuat terasi tradisional, memandang keberlanjutan perairan sebagai bagian penting dari masa depan ekonomi warga.

“Di wilayah perairan kami, penambangan timah tidak boleh beroperasi di area nelayan pinggir agar ekosistem dan mata pencaharian nelayan tetap terjaga,” kata Abu.

Pernyataan Abu menempatkan persoalan pesisir dalam konteks yang lebih luas. Bagi masyarakat yang hidup dari laut, perubahan kondisi perairan bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya dapat menjalar ke hasil tangkapan, pengolahan hasil laut, hingga kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah kekhawatiran terhadap aktivitas penambangan timah tanpa izin atau PETI, muncul tuntutan agar pengawasan diperkuat dan pemanfaatan ruang pesisir ditata dengan jelas. Namun, dugaan aktivitas ilegal dan dampaknya terhadap kondisi perairan tetap perlu diperiksa melalui data serta keterangan pihak berwenang.

Menimbang Jalan Keluar dari Persoalan Pesisir

Di Bangka Belitung, timah telah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat. Akan tetapi, kepentingan ekonomi pertambangan dan keberlangsungan mata pencaharian nelayan memerlukan pengaturan yang memperhitungkan kondisi lingkungan serta hak masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonominya.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah penataan aktivitas pertambangan melalui mekanisme perizinan dan pengawasan negara, termasuk peran PT Timah Tbk di wilayah yang masuk dalam cakupan izin usaha pertambangannya.

Pendekatan tersebut diajukan sebagai alternatif untuk membedakan kegiatan pertambangan berizin dari aktivitas tanpa izin. Meski demikian, keberadaan izin tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa suatu kegiatan bebas dari dampak lingkungan. Pelaksanaan operasi tetap harus memenuhi ketentuan hukum, persyaratan lingkungan, dan kewajiban yang berlaku.

Karena itu, pembicaraan mengenai masa depan pesisir Rias dan Beriga tidak cukup berhenti pada pilihan antara tambang ilegal dan tambang berizin. Hal yang juga perlu dijawab ialah bagaimana wilayah tangkap nelayan dilindungi, bagaimana risiko lingkungan dikendalikan, serta bagaimana masyarakat dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Rekam Jejak Lingkungan dan Tantangan Pembuktian

PT Timah menyatakan telah menjalankan sejumlah program lingkungan, mulai dari penanaman pohon dan reklamasi lahan hingga penempatan terumbu karang buatan di wilayah perairan.

Direktur Operasional PT Timah, Handy Geniardi, menjelaskan bahwa terumbu karang buatan menjadi salah satu upaya perusahaan untuk mendukung pemulihan ekosistem laut.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *