Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BABEL XPOSEFeatured

Nelayan Beriga hingga Rias Terhimpit Persoalan Tambang, Tata Kelola Resmi Jadi Harapan

×

Nelayan Beriga hingga Rias Terhimpit Persoalan Tambang, Tata Kelola Resmi Jadi Harapan

Sebarkan artikel ini
https://babelxpose.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG_20260412_162525.webp

BANGKA BELITUNG, Babelxpose.com — Persoalan aktivitas pertambangan timah di wilayah pesisir kembali menjadi perhatian masyarakat di Bangka Belitung. Di tengah potensi ekonomi dari sektor pertambangan, nelayan di Desa Beriga, Kabupaten Bangka Tengah, dan Rias, Kabupaten Bangka Selatan, menghadapi tantangan dalam mempertahankan mata pencaharian yang bergantung pada sumber daya laut.

Kondisi tersebut memunculkan harapan agar pemerintah menghadirkan tata kelola pertambangan yang jelas, sesuai ketentuan hukum, serta memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

https://babelxpose.com/wp-content/uploads/2026/03/ukuran-300-x-600_20260331_213520_0000.gif

Di Desa Beriga, sebagian warga mengkhawatirkan aktivitas pertambangan yang diduga tidak memiliki izin. Selain persoalan lingkungan, keberadaan aktivitas tersebut juga menjadi perhatian karena wilayah pesisir merupakan ruang hidup bagi nelayan dan keluarga mereka.

Laut Menjadi Sumber Penghidupan Warga

Bagi nelayan Beriga, laut memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Hasil tangkapan ikan dan udang menjadi sumber pendapatan yang menopang kehidupan masyarakat sekaligus mendukung usaha pengolahan hasil perikanan.

Hendra, seorang nelayan setempat, mengungkapkan bahwa hasil melaut dapat memberikan penghasilan yang cukup ketika musim tangkapan sedang baik.

“Alhamdulillah penghasilan kami sejahtera, kebutuhan kami untuk hidup layak ini hanya melaut saja. Sekarang sedang musim udang, satu kali melaut bisa dapat 20–40 kilogram udang size 30 yang kita jual ke tengkulak Rp85.000 per kilogram,” kata Hendra.

Meski demikian, penghasilan nelayan sangat bergantung pada musim, kondisi cuaca, ketersediaan hasil laut, serta biaya operasional melaut. Karena itu, perubahan kondisi lingkungan pesisir menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan masyarakat.

Warga berharap pengelolaan wilayah pesisir dilakukan dengan mempertimbangkan keberlangsungan mata pencaharian nelayan dan tidak mengabaikan kepentingan masyarakat yang telah lama menggantungkan hidup dari laut.

Usaha Perempuan Nelayan Ikut Menghadapi Tantangan

Persoalan ketersediaan bahan baku perikanan juga berpengaruh terhadap usaha ekonomi keluarga. Salah satunya dialami kelompok Koperasi Perempuan Berantai di Beriga, yang mengembangkan produk olahan ikan seperti kemplang.

Siti, salah seorang pengurus kelompok tersebut, menjelaskan bahwa usaha pengolahan ikan sebelumnya berpotensi memberikan keuntungan bagi para anggota.

“Kalau sedang produksi kemplang ikan, untung sekitar 80 persen karena kami hanya beli garam dan penyedap rasa saja. Dalam satu hari bisa meraup keuntungan dari modal Rp700.000,” ungkap Siti.

Namun, ia mengatakan kegiatan produksi telah terhenti selama lebih dari lima bulan karena sulitnya memperoleh bahan baku ikan.

“Saat ini tidak ada produksi apa pun karena ikan tidak musim. Sudah lebih dari lima bulan tidak ada produksi apa pun,” ujarnya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *