Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BANGKA XPOSEFeatured

Keakraban Sosial dari Jelitik untuk Perekat NKRI

×

Keakraban Sosial dari Jelitik untuk Perekat NKRI

Sebarkan artikel ini
https://babelxpose.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG_20260412_162525.webp

“Tapi dalam Islam itu ada ‘kun fayakun’, kalau Allah menghendaki apapun bisa terjadi. Umur 43 tahun saya seperti diminta yang di Atas untuk mulai membangun tiga tempat ibadah ini,” kisah pria kelahiran Jakarta ini.

https://babelxpose.com/wp-content/uploads/2026/03/ukuran-300-x-600_20260331_213520_0000.gif

Dengan berbagai keterbatasan ia pun mulai membangun. Lokasi yang dipilihnya di ujung kampung Jelitik. Jauh dari tanah kelahirannya. Saat itu Jelitik masih sepi. Sekelilingnya masih hutan dengan jalan belum diaspal.

Bangunan pertama yang didirikan adalah Kuil Dewi Kuan Yin. Kemudian dilanjutkan pembangunan Mushola Baiturrahman dan terakhir Gereja Kasih Bunda. Semua secara mandiri. “Warnanya merah, kuning, hijau. Merah melambangkan Konghucu, Hindu, Budha. Kuning gereja, dan hijau itu Islam. Ini untuk mengakrabkan,” jelasnya.

Berjalannya waktu, keberadaan Taman Bunga Teratai terdengar kemana-mana. Pengunjung pun berdatangan. Tak hanya dari sekitar pulau Bangka, hampir semua daerah di Indonesia pernah mengunjunginya. Bahkan tercatat ada kunjungan tamu dari 27 negara. Mereka kemudian diminta pengelola meninggalkan atau mengirimkan bendera negara asal masing-masing sebagai kenangan kunjungan. Bendera berbagai negara itu akan dipasang saat ada kegiatan besar di Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin. Seringkali juga rombongan pelajar datang untuk mengerjakan tugas sekolah. Mereka membuat tulisan, foto atau video tentang keberagaman.

Kini setelah 17 tahun berdiri, Hermanto bisa tersenyum bahagia, karena selain sebagai tempat wisata religi, komplek Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin juga menjadi tempat edukasi pelajar dan simbol keakraban sosial masyarakat Indonesia, khususnya Bangka yang majemuk.

“Ini menciptakan keakraban sosial di masyarakat, pengunjung dari berbagai latar belakang bisa datang belajar, berwisata dan beribadah dengan akrab,” tuturnya.

Para pengunjung kata Hermanto Wijaya, mengaku merasa damai. Mereka merasa seperti berada di Indonesia dalam skala yang lebih kecil. “Semacam miniatur Indonesia, bisa bertemu dengan berbagai orang dalam suasana rukun damai. Mereka senang seperti ini, jadi kalau kesini tidak usah lagi bicara kamu latar belakang apa, semuanya satu Indonesia,” ujarnya.

Keberadaan Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin pun mendapat apresiasi pemerintah. Pada tahun 2009 Menteri Pendidikan Nasional menganugerahi Penghargaan Keaksaraan atas inovasi dan kreatifitas dalam pembelajaran keaksaraan keakraban sosial atau perdamaian tahun 2009. Keakraban sosial di Taman Bunga Teratai dinilai sangat membantu program pemerintah memberantas buta aksara.

“Waktu itu ada orang dari Kementerian Pendidikan yang datang, dia menilai. Akhirnya ditetapkan satu-satunya tempat ibadah yang mendapat penghargaan keaksaraan keakraban sosial, jadi tempat ini diakui mereka mampu merekatkan hubungan umat beragama. Para pengunjung bisa enjoy datang, yang ibadah bisa ibadah, yang rekreasi bisa rekreasi, begitu juga yang belajar, itu kata mereka kategori yang kita dapat,” terangnya.

Ia bertekad akan terus mempertahankan keberadaan Taman Bunga Teratai Dewi Kuan Yin sambil terus mengembangkannya. Harmoni dari ujung kampung Jelitik ini diharapkan bisa menjadi lem perekat kebhinekaan Bangka dan Indonesia. **

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *