Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
PERSPEKTIF

Gejala Kenaikan Harga Selama Ramadhan: Kebodohan atau Ketidakberdayaan?

×

Gejala Kenaikan Harga Selama Ramadhan: Kebodohan atau Ketidakberdayaan?

Sebarkan artikel ini
Muhammad Akhyar Adnan (Foto: Dok. pribadi)
https://babelxpose.com/wp-content/uploads/2026/04/IMG_20260412_162525.webp

Kebodohan: Kegagalan Analisis

Kebodohan di sini adalah ketidakmampuan atau keengganan menganalisis fakta. Pemerintah sering mengatakan “stok aman” atau “ini wajar,” padahal data menunjukkan anomali.

https://babelxpose.com/wp-content/uploads/2026/03/ukuran-300-x-600_20260331_213520_0000.gif

Jika demand turun dan supply stabil, kenaikan harga adalah “penyimpangan” yang perlu diaudit, bukan dibiarkan. Sikap ini seperti menerima laporan keuangan timpang tanpa verifikasi. Suatu kebodohan analitis.

Pedagang kecil juga terjebak. Banyak yang ikut menaikkan harga meskipun penjualan turun, mengikuti psikologi pasar tanpa logika ekonomi. Kebodohan mikro yang merugikan diri sendiri.

Masyarakat pun tak luput: sikap pasrah “tiap tahun begitu” adalah status quo bias, padahal boikot kolektif bisa menekan harga. Kebodohan ini melanggengkan masalah.

Namun, ada ketidakberdayaan yang lebih dalam. Pemerintah, meski punya wewenang, tampak lumpuh. Mungkin karena lemahnya pengawasan rantai pasok atau pengaruh politik pedagang besar.

Dalam akuntansi, ini seperti gagalnya “kontrol internal” pasar. Pedagang kecil tak berdaya melawan distributor yang menimbun stok, dan masyarakat tak punya alternatif karena demand untuk kebutuhan pokok bersifat inelastis.

Solusi: Audit dan Aksi

Untuk keluar dari lingkaran ini Pemerintah harus melakukan “audit pasar”. Lacak stok, tangkap pelaku hoarding, dan hukum berat. Pedagang kecil perlu akses pasokan terjangkau, misalnya via koperasi. Masyarakat harus dididik untuk melawan dengan boikot.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membantu saudaranya dalam kesulitan, Allah akan membantunya.” (HR. Muslim). Dalam hal ini kuncinya adalah solidaritas. Kenaikan harga saat Ramadhan adalah cermin kebodohan dan ketidakberdayaan.

Pemerintah gagal mengaudit, pedagang kecil terjebak, dan masyarakat pasrah. Tapi, ini bukan takdir. Ada alat, data, dan kekuatan kolektif untuk melawan. Tinggal sekarang: mau atau tidak? Wallahu a’lam bisshowab.(*)

*Muhammad Akhyar Adnan, PhD., MBA., SE., Ak. (Dosen Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Yarsi)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *